Jajak Pendapat
Bagaimana Pendapat Anda Tentang Pelayanan Kesehatan Yang Anda Terima di RSUD Wangaya Kota Denpasar?
Baca Artikel

KENALI DEPRESI PADA ANAK

Oleh : rsudwangaya | 03 Agustus 2017 | Dibaca : 439 Pengunjung

           Mendeteksi depresi pada anak tidak semudah mendeteksi penyakit fisik, kadang kala orang tua tidak peka terhadap gejala-gejala yang dialami oleh anak-anak mereka. Anak dengan gangguan depresi kadang kala menampakkan gejala yang hampir serupa dengan hambatan emosional yang lazim terjadi, sampai pada akhirnya di dapati beberapa gejala seperti :

1. Anak berperilaku menentang, menolak beberapa instruksi yang diminta, mengabaikan kontak verbal dengan orang tua/ guru, cenderung mengganggu teman dan uring-uringan, fase ini disebut dengan fase protes.

2. Anak menjadi putus asa, pada fase ini dimana gangguan depresi mulai menampakkan gejala yang sesungguhnya, dimana anak mulai menolak makan, enggan beraktifitas, tidak mau bicara atau bertemu dengan teman sebaya. Fase ini disebut dengan fase desapears.

3. Anak tidak mengenali lagi orang tua dan lingkungan, pada fase ini anak sudah benar-benar berada pada fase yang membahayakan dimana anak sudah sangat kehilangan kontrol atas dirinya sehingga tidak mampu lagi mengenali orang tua maupun lingkungannya, fase ini di sebut dengan fase detouch.

            Adapun beberapa hal yang dapat memicu timbulnya gangguan depresi pada anak diantaranya :

1. Stres, anak dapat mengalami stress jika aktifitas harian yang dilakukan tidak seimbang. Anak harus melakukan banyak aktifitas seperti sekolah, ekstrakurikuler, les, mengerjakan PR, menghadapi kemacetan dan lain-lain.

2. Broken home, anak yang terbiasa melihat pertengkaran orang tua,  orang tua berbicara dengan kata-kata kasar dan membentak anak, dan kekerasan psikis maupun fisik yang dialami anak dapat menyebabkan anak mengalami hentakan emosional dan trauma.

3. Porsi bermain berkurang, bermain dapat membuat otak anak memiliki kesempatan berkembang dan belajar. Anak yang tidak bermain berpotensi tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapi dengan baik.

4. Kecanduan gadget, anak yang bermain game online lebih dari 5 jam sehari, dapat menyusutkan sel-sel otak, berkolerasi pada kapasitas untuk berempati dan bersahabat. Anak menjadi memiliki hambatan dalam berinteraksi sosial.

5. Kebanyakan gula, gula yang berlebih dapat menekan hormone pertumbuhan pada otak anak, sehingga anak berpotensi mengalami hambatan dalam kognisi dan emosi

            Jika anak menampakkan gejala-gejala tersebut, cobalah untuk melakukan pendekatan secara intensif pada anak, dekati anak dengan kasih sayang dan perhatian yang penuh, sehingga anak menjadi aman dan nyaman dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang sedang dialami, yakinkan pula anak mampu melewati masa-masa sulitnya, dan bantu anak untuk mengembalikan rasa percaya diri yang hilang. Dan bila memang gangguan depresi pada anak tidak dapat ditangani sendiri, meminta bantuan tenaga professional seperti psikolog dan psikiater anaks angat disarankan.

 

 

Penulis,

Nena Mawar Sari, S.Psi

Psikolog di RSUD Wangaya Kota Denpasar

 


Oleh : rsudwangaya | 03 Agustus 2017 | Dibaca : 439 Pengunjung


Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :

 



Facebook
Twitter