SISI LAIN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT PEMERINTAH KETIKA PASIEN TIDAK MAMPU MEMBAYAR

  • 02 Maret 2017
  • Oleh: ayagnawdusr
  • Dibaca: 1793 Pengunjung
SISI LAIN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT PEMERINTAH KETIKA PASIEN TIDAK MAMPU MEMBAYAR

Sebagai fasilitas pelayanan kesehatan rujukan baik sekunder maupun tersier,dalam dekade terakhir ini rumah sakit pemerintah mengalami transformasidi bidang manajemen, pengelolaan keuangan, pengelolaan sumberdaya manusia, mutu pelayanan, fasilitas penunjang dan lain-lain yang berorientasi pada prinsip-prinsip efisiensi dan efektifitas. Demikian juga regulasi di bidang perumahsakitan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Semenjak diundangkannya UU Rumah Sakit tahun 2004, hak-hak pasien mengemuka. Pasien berhak mendapat penjelasan tentang perjalanan penyakit. Berhak memperoleh informasi biaya pelayanan. Berhak melakukan second opinion. Berhak menolak tindakan yang diberikan oleh dokter setelah mendapat penjelasan dengan alasan apapun termasuk biaya melalui informed concen. Informed concern adalah sebuah formulir yang besikan tentang penjelasan atau informasi yang diberikan oleh dokter sebelum melalukan tindakan medis terutama yang berisiko tinggi seperti pembedahan, melakukan tindakan invasif untuk kepentingan terapi maupun penegakan diagnosis. Penjelasan yang diberikan adalah tentang diagnosis penyakit, dasar penegakan diagnosis, manfaatnya, risiko yang mungkin terjadi , komplikasi, kemungkinan untuk keberhasilan ( prognosis) suatu operasi dan perkiraan biaya yang diperlukan. Itu dalam kondisi normal. Kondisi pasien dan keluarga memungkinkan untuk menjalin komunikasi dua arah. Tapi dalam kondisi darurat, demi kepentingan keselamatan dan penyelamatan nyawa pasien, tim medis yang dipimpin oleh dokter, wajib melakukan tindakan walaupun tanpa persetujuan pasien secara langsung karena tidak memungkinkan pasien memberikan persetujuan. Ketika seorang pasien datang di IGD dalam kondisi cedera kepala berat akibat kejadian kecelakaan lalu lintas misalnya, diantar oleh orang yang menemukan di pinggir jalan tanpa ada keluarga, tanpa temen dekat.  Adalah suatu yang tidak manusiawi dokter dan tim IGD membiarkan sementara sambil menunggu keluarga hanya untuk memberikan persetujuan untuk dilakukan tindakan operasi. Sementara pasien setelah dilakukan penilaian medis berada dalam status yang segera harus dilakukan operasi, karena tanpa dilakukan operasi nyawa pasien akan terancam, walaupun tingkat keberhasilan dari tindakan yang dilakukan tidak seratus persen akan berhasil. Taruhlah tingkat keberhasilannya 90%, masih ada 10% kemungkinan gagal. Setelah dilakukan tindakan, akhirnya pasien berhasil diselamatkan jiwanya setelah melalui serangkaian prosedur tindakan yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensi yaitu tim medis yang terlatih dan berpengalaman. Operasi dilakukan selama tiga jam pada tengah malam sampai dini hari. Seluruh kemampuan sumberdaya rumah sakit dikerahkan. Dokter beserta tim medis tidak mengenal kantuk, walaupun sebelumnya telah melakukan tindakan operasi yang lain. Melelahkan memang. Tapi orang bilang, itulah sisi kemanusiaan yang dimiliki tim medis, disamping risiko sebuah profesi. Mengapa disebut berisiko, karena kalau terjadi kegagalan pada kasus ini, risikonya adalah kemungkinan adanya gugatan dari keluarga karena merasa tidak dilibatkan dalam memberikan persetujuan tindakan medis tapi mereka tidak mengetahui kronologis sebuah tindakan dari awal.

Kembali pada kasus keberhasilan tindakan operasi tadi. Setelah itu pasien dirawat selama dua minggu, dan mendapat perawatan yang baik, karena rumah sakit tempat dia dirawat sudah berstatus badan layanan umum daerah dan terakreditasi oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit, sehingga semua prosedur tindakan adalah yang terstandarkan. Hasilnya exelence. Tidak ada suatu hal yang dikhawatirkan terjadi . Dan akhirnya pasien dinyatakan boleh pulang oleh dokter. Tiba saatnya pasien disuruh oleh perawat ruangan untuk menyelesaikan administrasi pembayaran di bagian kasir. Petugas kasir melakukan tugasnya dengan cekatan, dan keluarlah bill dalam bentuk print out biaya selama dirawat. Muncul angka lima puluh juta lebih sedikit. Keluarga pasien tertunduk lesu melihat angka di kertas. Kebetulan pasien berasal dari strata pendidikan dan ekonomi yang rendah. Tinggal di kos-kosan, bekerja srabutan, penghasilan tidak menentu dan   berasal dari luar Propinsi Bali. Ia merantau ke Bali diajak temannya untuk mengadu nasib. Tidak membawa KTP sehingga untuk mengurus keperluan persyaratan jaminan kesehatan daerah tidak bisa. Intinya semua sumber pembiayaan kesehatan dari pemerintah tidak bisa dipenuhi.

 

Dewa Putu Alit Parwita

Penulis : Bekerja di RSUD  Wangaya    


  • 02 Maret 2017
  • Oleh: ayagnawdusr
  • Dibaca: 1793 Pengunjung

Artikel Terkait Lainnya

dr. Dewa Putu Alit Parwita, M.Kes

23

Sep

Desa Ubung Kaja

Air Mati


22

Sep

I made sutawan

LPJ padam





Bagaimana Pendapat Anda Tentang Pelayanan Kesehatan Yang Anda Terima di RSUD Wangaya Kota Denpasar?