Jajak Pendapat
Bagaimana Pendapat Anda Tentang Pelayanan Kesehatan Yang Anda Terima di RSUD Wangaya Kota Denpasar?
Baca Berita

Pendidikan Seks Pada ABK On Air di 92,6 FM RPKD

Oleh : ayagnawdusr | 13 Juli 2017 | Dibaca : 171 Pengunjung

Kenakalan remaja dewasa ini bisa dikatakan menjadi masalah tiada ujung pangkalnya, yang belum menadapatkan solusi tepat. Mengapa demikian? Oleh karena, kenakalan remaja menjadi trend yang sepertinya dalam hal sanksi atau pembinaan kurang mendapat penanganan serius. Parahnya lagi, kenakalan yang berujung pelecehan bahkan kekerasan seksual, semata-mata terjadi karena ingin memenuhi hasrat yang tidak tersalurkan. Korbannya adalah anak-anak dibawah umur, yang belum mengetahui apa dan bagaimana seks tersebut, bahkan mirisnya jika kita telaah lebih jauh, banyak anak-anak di bawah umur menjadi korban prostitusi liar yang digawangi oleh orang-orang tidak berperi kemanusiaan. Siapa yang akan bertanggung jawab akan hal ini? Orang tua adalah garda terdepan dan terpenting bagi kelangsungan masa depan anak-anaknya sendiri. Pentingnya sex education bagi anak-anak akan membuat mereka berpikir, berucap dan bertingkah laku sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Jadi pendidikan seks bagi anak-anak bukanlah hal yang tabu, bahkan sangat utama untuk diberikan. Nah, bagaimana pendidikan seks bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)? Topik ini menjadi perbincangan menarik, dalam on air di studio Radio Publik Kota Denpasar (RPKD), pukul 09.00 s/d 10.00 wita, yang disampaikan oleh Nena Mawar Sari, S.Psi, Kamis (13/7) pagi.

Psikolog yang bertugas di Poliklinik Jiwa (Psikiatri) RSUD Wangaya Kota Denpasar ini lebih lanjut mengatakan, Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994), secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan serta kemasyarakatan. “Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat,” papar Psikolog jebolan Universitas Wisnu Wardana Malang ini.

Lebih lanjut Psikolog yang akrab disapa Nena ini menyampaikan, kurang lebih sekitar 1.400 anak berkebutuhan khusus  per tahunnya menjadi korban seksual di Inggris dan anak berkebutuhan khusus perempuan di AS (Amerika Serikat) lebih rentan 1,5 kali menjadi korban dibandingkan masyarakat umum. Oleh karena itu, pendidikan seks bagi anak berkebutuhan khusus harus diberikan agar mereka memahami tentang seksual. Sekolah dan Parents harus melakukannya secara konkret, bertahap dengan pengulangan dan pengukuhan. Pendidikan seks pada anak berkebutuhan khusus berbeda metodenya dengan anak-anak yang lainnya, bukan sekadar menyangkut seksual semata, tetapi mencakup biologis, psikologis, sosial, serta spiritual.

Mengapa pendidikan seksual pada ABK sangat penting diberikan? Pertanyaan tersebut muncul saat pendengar mengajukan pertanyaan secara live via telephone, kembali Psikolog berkacamata ini menegaskan bahwa ABK rentan menjadi korban kejahatan seksual, tidak hanya anak normal saja yang menjadi korban pelecehan namun ABK juga menjadi incaran human error. Kemudian ABK sendiri memiliki hasrat yang sama dengan anak normal mengenai masalah seksualitas. Maka dari itu peran orang tua dan lingkungan sangat penting dalam hal ini, sedikit saja kecolongan maka jika tidak dapat dikendalikan, akan berdampak buruk bagi si anak, baik itu anak normal maupun anak berkebutuhan khusus. Dalam kesempatan ini juga disampaikan beberapa tips untuk memberikan pendidikan seks pada anak, yaitu dengan cara ceramah, mendongeng, gamba-gambar, contoh kasus seksual bahkan dapat pula diberikan dalam bentuk gerak dan lagu. Intinya harus memberikan perhatian ekstra pada anak terutama pendidikan seks sejak dini, sangat penting untuk mereka dan harus diberikan secara kontinyu. “Dan jangan lupa dilingkungan yang jarang bisa kita pantau yaitu disekolah, diharapkan bagi orang tua menjalin komunikasi yang baik dengan guru di sekolah tentang kondisi anak, sehingga orang merasa tetap aman dan tenang terhadap anaknya,” tutup Psikolog berparas cantik ini. dns_humas


Oleh : ayagnawdusr | 13 Juli 2017 | Dibaca : 171 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



Facebook
Twitter